Pengajian Ahad Pagi Ramadan: Syaikhuna KH Abun Bunyamin Ingatkan Hakikat Puasa, Menyempurnakan Ibadah, dan Tiga Kewajiban Hidup

Bagikan artikel ini:
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA

AL-MUHAJIRIN — Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA kembali menyampaikan tausiyah dalam Pengajian Ahad Pagi Ramadan yang digelar di Masjid Al-Madinah, Kampus 2 Pondok Pesantren Al-Muhajirin Sukamulya, Ahad (8/3/2026), bertepatan dengan 18 Ramadan 1447 H.

Dalam pengajian yang dihadiri jamaah dari berbagai kalangan tersebut, Syaikhuna menyampaikan nasihat keagamaan yang menekankan pentingnya menjaga diri dari dosa, menyempurnakan ibadah, serta menjalankan kewajiban hidup sebagai hamba Allah.

Suasana pengajian beberapa kali diwarnai tawa para jamaah ketika Syaikhuna menyelipkan humor-humor ringan di tengah nasihatnya. Candaan tersebut membuat suasana menjadi lebih hangat, namun tetap sarat dengan pesan hikmah.

Dalam pengajian ini, Syaikhuna didampingi oleh muridnya, Ust. Ikin Sodikin, M.Hum., yang turut membersamai penyampaian materi.

Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar

Dalam tausiyahnya, Syaikhuna mengingatkan bahwa hakikat puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat.

Naon artina urang puasa lamun masih keneh loba nyieun dosa ka sasama? Apa artinya kita puasa, salat, dan zikir kalau masih banyak menyakiti sesama manusia,” ungkapnya.

Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dosa, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)

Syaikhuna juga menjelaskan pandangan para ulama bahwa puasa memiliki beberapa tingkatan. Sebagaimana dijelaskan Imam Al-Ghazali, puasa terbagi menjadi puasa umum, puasa khusus, dan puasa khususul khusus.

Tingkatan pertama adalah puasa umum, yaitu menahan lapar dan haus. Sedangkan tingkatan yang lebih tinggi adalah puasa yang juga menjaga lisan, pandangan, tangan, dan seluruh anggota tubuh dari dosa.

Puasa téh lain ngan saukur nahan lapar jeung haus hungkul, tapi kudu ngajaga sakumna anggota badan tina maksiat. Terutama maksiat yang berkaitan dengan sesama manusia,” ujarnya.

Hakikat puasa sendiri ditegaskan dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Wudu sebagai Awal Kesempurnaan Salat

Dalam kesempatan tersebut, Syaikhuna menjelaskan bahwa ibadah salat sebenarnya dimulai sejak seseorang berwudu.

Ia menegaskan bahwa wudu bukan sekadar membersihkan anggota tubuh secara lahir, tetapi juga disertai kesadaran batin untuk membersihkan dosa-dosa yang dilakukan oleh mata, telinga, lidah, dan anggota tubuh lainnya.

Baca Juga:  Mufham, Metode Unggulan Kitab Kuning Khas Al-Muhajirin yang Bikin Mudah Paham dan Belajar Jadi Menyenangkan

Salat téh dimimitian ti wudu. Lamun wuduna disempurnakeun, dosa-dosa bakal kaluar tina awak urang,” jelasnya.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW:

“Apabila seorang hamba muslim berwudu lalu membasuh wajahnya, maka keluar dari wajahnya setiap dosa yang dilakukan oleh matanya bersama air wudu… hingga ia keluar dari dosa-dosanya dalam keadaan bersih.”
(HR. Muslim)

Karena itu, sebelum bermunajat kepada Allah dalam salat, seseorang perlu membersihkan dirinya terlebih dahulu melalui wudu yang sempurna.

Allah Menutup Aib Manusia

Dalam nasihatnya, Syaikhuna juga mengingatkan jamaah agar tidak membuka aib diri sendiri ataupun orang lain. Menurutnya, manusia terlihat baik di hadapan orang lain karena Allah menutup kekurangannya.

“Urang dimuliakeun ku batur téh lain sabab urang teu boga dosa, tapi sabab Allah nutupan kagorengan urang,” tuturnya.

Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW:

“Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.”
(HR. Muslim)

Karena itu, jika seseorang pernah melakukan kesalahan, sebaiknya segera bertobat tanpa perlu menceritakan dosa tersebut kepada orang lain.

“Lamun ku Allah geus ditutup, ulah ku urang dibuka deui,” pesannya.

Kemuliaan Bukan dari Cantik atau Kaya

Di tengah penjelasan tentang akhlak dan kemuliaan manusia, Syaikhuna juga menyelipkan humor yang membuat jamaah tertawa.

Ia menjelaskan bahwa ukuran kemuliaan dalam Islam bukanlah kecantikan, kekayaan, ataupun jabatan.

“Lamun indikator mulia téh dina geulis mah karunya ibu-ibu, pasti eleh ku artis,” ujarnya disambut tawa jamaah.

“Lamun indikatorna beunghar, moal kabeh jadi mulya. Jadi indikator mulia téh ku takwa.”

Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Syaikhuna juga menyinggung fenomena orang yang ingin dicintai dengan cara instan.

“Aya anu nanya ka abdi, kumaha hukumna make susuk supaya dipikanyaah ku bos?” katanya.

Beliau lalu menjawab,

Teu kudu make susuk. Akhlak sing sae, insyaallah jalma ge bakal resep.

Rezeki

Dalam bagian lain pengajian, Syaikhuna menjelaskan bahwa kehidupan manusia berjalan dalam sebuah sistem yang saling berkaitan, termasuk dalam urusan rezeki.

Baca Juga:  Ustadz Dr. H. Amit Saepul Malik, M.Pd.I, Launching Buku "Keringatku Pengabdianku (Edisi Revisi)" di Rapat Kerja Sekretariat Al-Muhajirin

Menurutnya, rezeki yang diperoleh seseorang tidak selalu sepenuhnya untuk dirinya sendiri, tetapi sering kali menjadi jalan bagi orang lain.

“Rezeki anu aya di tangan urang bisa jadi aya rezeki pamajikan, rezeki budak, rezeki kolot, atawa rezeki dulur anu ngalangkungan urang,” jelasnya.

Karena itu, seseorang tidak perlu khawatir jika merasa rezekinya habis untuk keluarga.

Hal ini sejalan dengan firman Allah:

“Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya.”
(QS. Hud: 6)

Syaikhuna kemudian menjelaskan bahwa harta yang dimiliki seseorang sering kali menjadi jalan rezeki bagi orang lain.

Ia memberi contoh sederhana. Ada orang yang memiliki banyak rumah, tetapi tidak semuanya ditempati. Justru rumah tersebut dijaga oleh orang lain. Maka penjaga rumah itulah yang mendapatkan rezeki dari situ.

“Ibu gaduh imah di mana-mana, tapi nu nempatan malah tukang ngajagana. Eta teh rezeki tukang ngajagana,” ujarnya.

Begitu juga dengan orang yang memiliki sawah atau kebun. Meskipun pemiliknya tidak selalu menikmati hasilnya secara langsung, ada petani atau pekerja yang mengolah dan mengurusnya.

“Ibu gaduh sawah kebon di mana-mana, nu ngurus tatangkalanana tukang kebon. Eta teh rezekina,” jelasnya.

Ia bahkan menyinggung kondisi orang yang memiliki banyak hasil panen, tetapi karena sakit justru tidak bisa menikmatinya.

“Kadang aya nu gaduh beas loba, tapi teu tiasa ngadahar sabab aya panyakit. Tungtungna eta jadi rezeki tukang ngurus sawahna,” katanya.

Banyak Anak Banyak Rezeki?

Dari penjelasan tersebut, Syaikhuna lalu menyinggung ungkapan yang sering beredar di masyarakat bahwa banyak anak berarti banyak rezeki.

Ia mengakui bahwa setiap anak memang memiliki rezekinya masing-masing.

Hal ini sesuai dengan firman Allah:

“Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kami-lah yang memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu.”
(QS. Al-Isra: 31)

Ia kemudian berseloroh yang disambut gelak tawa jamaah.

“Lamun kitu mah seueur istri seueur rezeki nya?”

Bisa jadi… tapi bisa oge jadi seueur istri seueur dosa.

Jangan Memaksa Calon Menantu Harus Kaya

Ketika Syaikhuna membahas persoalan jodoh anak.

Ia mengingatkan para orang tua agar tidak terlalu menuntut calon menantu harus kaya sejak muda.

“Teu aya budak ngora ujug-ujug langsung sukses,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan seseorang biasanya datang melalui proses panjang.

Baca Juga:  Kejuaraan Taekwendo UIN Championship 6, Santri SMI 1 3 Al Muhajirin Sukses Meraih Juara 1 dan 2

“Lamun nu boga mobil mah biasana geus aki-aki,” ujarnya disambut tawa jamaah.

“Masa budak urang dibikeun ka aki-aki ngan pedah aya mobilna?”

Tiga Kewajiban Hidup

Di bagian lain tausiyahnya, Syaikhuna menjelaskan bahwa hidup manusia akan berkah jika menjalankan tiga kewajiban utama.

Pertama adalah kasab atau bekerja.

“Teu aya nabi anu nganggur. Nabi Daud pandai besi, Nabi Muhammad oge damel, ngagembala sareng dagang,” ujarnya.

Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW:

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri. Dan Nabi Dawud makan dari hasil kerja tangannya.”
(HR. Bukhari)

Kewajiban kedua adalah ngaji atau menuntut ilmu, terutama ilmu yang berkaitan dengan iman, ibadah, dan akhlak.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.”
(HR. Ibnu Majah)

Sedangkan yang ketiga adalah dakwah, yaitu mengajak kepada kebaikan minimal kepada keluarga sendiri.

“Dakwah teh lain tugas ajengan hungkul. Minimal ngajak anak jeung pamajikan kana kahadean,” katanya.

Hal ini sejalan dengan perintah Allah:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)

Hidup adalah Gema

Di akhir pengajian, Syaikhuna menyampaikan pesan sederhana tentang hukum kehidupan.

Hirup téh siga gema. Naon anu urang lakukeun bakal balik deui ka urang.

Pesan ini sejalan dengan firman Allah:

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya pula.”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Ia mengibaratkan kehidupan seperti menanam sesuatu di tanah.

“Melak cabe bakal jadi cabe, melak bonteng bakal jadi bonteng,” ujarnya.

Karena itu, manusia dianjurkan menanam kebaikan sebanyak mungkin selama hidup di dunia agar kelak menuai kebaikan pula di akhirat.

Ia juga mengingatkan bahwa kehidupan selalu berubah.

“Badai pasti berlalu,” katanya.

“Hirup mah aya waktuna sehat, aya waktuna sakit. Aya waktuna beunghar, aya waktuna susah. Nu penting urang istiqomah dina kahadean.”

Pengajian Ahad Pagi Ramadan di lingkungan Pondok Pesantren Al-Muhajirin menjadi salah satu majelis rutin yang terus dihadiri jamaah setiap pekan, terutama selama bulan suci Ramadan, sebagai sarana memperdalam ilmu dan memperkuat spiritualitas umat. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *