Halal Bihalal Al-Muhajirin Pusat: KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA: Doa Orang Tua, “Tiket Langit” untuk Masa Depan Anak

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat, KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA

AL-MUHAJIRIN— Suasana hangat penuh keakraban menyelimuti Masjid At-Tazkiyah Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, Sabtu, 4 April 2026. Ratusan orang tua santri hadir dalam kegiatan Halal Bihalal bertema “Merajut Ukhuwah, Menguatkan Silaturahmi & Menyambut Santri dengan Penuh Keberkahan”, sebuah momentum pasca-Idulfitri yang tidak hanya menjadi ajang saling memaafkan, tetapi juga memperkuat komitmen bersama dalam mendidik generasi.

Acara ini menjadi titik temu emosional antara orang tua dan pesantren—mengantar kembali anak-anak menuntut ilmu, sekaligus membawa pulang bekal ruhani yang tak kalah penting: ilmu tentang cara mendidik dari langit, yaitu doa.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat, KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA, dalam tausiyahnya mengajak para orang tua untuk merenungi satu hal mendasar: bahwa keberhasilan pendidikan anak tidak semata bergantung pada metode, kurikulum, atau sistem, melainkan sangat ditentukan oleh kesungguhan doa orang tua.

Beliau mengawali dengan mengajak hadirin memahami ciri-ciri Ibadurrahman dalam akhir Surah Al-Furqan. Dari sekian banyak ciri, ada satu yang menjadi penutup sekaligus pondasi: doa yang terus-menerus dipanjatkan.

“Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yunin wa ja’alna lil muttaqina imama.”

Menurut KH. Marpu, penggunaan kata yaquluna dalam ayat tersebut menunjukkan makna berulang (tajaddud), yakni doa yang tidak boleh berhenti. Orang tua harus terus-menerus mendoakan anaknya agar menjadi penyejuk hati dan pemimpin bagi orang-orang bertakwa.

Baca Juga:  Tim Basketball SD Plus Al Muhajirin Raih Prestasi di Ajang Turnamen Urban Mid Cup 2024 Tingkat Jabar

“Ini bukan sekadar doa biasa. Ini metode pendidikan yang langsung diajarkan Al-Qur’an,” tegas beliau.

Tiga “Tiket Ijabah” yang Dimiliki Orang Tua

Dalam tausiyahnya, KH. Marpu menegaskan sebuah hadis penting:

“Tiga doa yang pasti diijabah, tanpa keraguan sedikit pun…”

Yaitu:

  1. Doa orang yang sedang safar (musafir),
  2. Doa orang tua,
  3. Doa orang yang dizalimi.

Beliau kemudian menjelaskan dengan gaya yang sangat dekat dengan kehidupan jamaah: bahwa para orang tua yang hadir saat itu sebenarnya sedang memegang tiga “tiket langit” sekaligus.

  • Mereka adalah musafir, karena sedang dalam perjalanan mengantar anak.
  • Mereka adalah orang tua, yang doanya memiliki kekuatan khusus.
  • Dan dalam banyak kondisi, mereka juga pernah merasa “dizalimi” oleh anak—dalam arti anak belum memenuhi harapan atau amanah.

“Kalau tiga ini berkumpul, maka doa kita luar biasa kuat. Tinggal dipakai atau tidak,” ungkap beliau.

Ia pun mengajak para orang tua untuk benar-benar memanfaatkan momen perjalanan, waktu setelah salat, bahkan di dalam salat, untuk mendoakan anak-anak secara sungguh-sungguh.

Doa Melampaui Metode Pendidikan

Dalam bagian yang paling menggugah, KH. Marpu menegaskan bahwa doa orang tua bisa melampaui metode pendidikan apa pun.

Baca Juga:  Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah Resmi Membuka Sertifikasi Guru Al-Qur’an Metode Hijrati di Al-Muhajirin Pusat Purwakarta

“Kalau kita merasa guru punya metode, punya cara, maka doa orang tua bisa melampaui semuanya,” ujarnya.

Ia bahkan mengutip ungkapan ulama:

“Dengan doa, kita bisa meraih apa yang tidak bisa diraih dengan amal.”

Karena itu, beliau mengingatkan agar para orang tua tidak merasa lemah hanya karena tidak menguasai metode mengajar, tidak memahami kurikulum, atau tidak tahu cara membimbing akademik anak.

“Boleh jadi kita tidak tahu cara mengajar, tapi kita bisa berdoa. Dan itu justru yang paling kuat,” pesannya.

Kisah Nyata: Doa yang Mengubah Segalanya

Selanjutnya, KH. Marpu menyampaikan dua kisah besar dari para ulama:

Pertama, kisah Imam Abdul Wahab As-Sya’rani yang menghadapi anaknya yang malas mengaji. Alih-alih memarahi, beliau memilih tafwidh ilallah—pasrah total kepada Allah sambil terus berdoa. Hasilnya, sang anak justru berubah menjadi sosok yang sangat mencintai ilmu dan melampaui teman-temannya.

Kedua, kisah Imam Abul Hasan As-Syadzili yang menghadapi ujian lebih berat: anaknya terjerumus dalam kebiasaan buruk. Namun beliau tidak putus asa, terus berdoa hingga akhir hayat. Dan pada akhirnya, anak tersebut justru menjadi wali Allah.

“Ini bukti, doa itu bekerja. Bahkan ketika kita sudah tidak ada,” ujar KH. Marpu.

Baca Juga:  Tahfidz on Vacation 2024 SD Plus Al-Muhajirin Purwakarta: Mengisi Liburan dengan Cinta Al-Qur'an di Kebun Anas Bin Malik

Menjadi Orang Tua yang “Ahlud Doa”

Di akhir tausiyahnya, KH. Marpu mengajak seluruh orang tua untuk menjadi “ahlud doa”—orang tua yang hidupnya tidak lepas dari doa untuk anak-anaknya.

Beliau bahkan menyarankan agar doa dijadikan rutinitas harian:

  • setelah setiap salat,
  • sebelum tidur,
  • saat bangun malam,
  • dan ketika dalam perjalanan.

Salah satu doa yang dianjurkan adalah:

“Allahumma ihdi auladi, warhamhum, wanfa’ bihim…”
(Ya Allah, bimbinglah anak-anak kami, sayangi mereka, dan jadikan mereka bermanfaat bagi orang lain).

Beliau juga menegaskan bahwa dalam Al-Qur’an, metode pendidikan para nabi lebih banyak ditunjukkan melalui doa, bukan sekadar nasihat.

Harapan yang di Ujung Silaturahmi

Acara ditutup dengan mushafahah, doa bersama, dan suasana haru yang terasa hangat.

Di majelis itu, para orang tua tidak hanya mengantar anak ke pesantren. Mereka juga membawa pulang satu bekal penting—

bahwa setiap doa adalah harapan,
setiap harapan adalah ikhtiar,
dan setiap ikhtiar yang dipanjatkan ke langit,
tidak pernah sia-sia.

Semoga Allah menjadikan anak-anak Al-Muhajirin sebagai qurrata a’yun, penyejuk hati, dan pemimpin bagi orang-orang bertakwa. Amin ya Rabbal ‘alamin. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *