
AL-MUHAJIRIN — Pengajian rutin hari Rabu bersama para guru Al-Muhajirin Pusat kembali digelar di Al-Muhajirin Kampus Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, Rabu 20 Mei 2026.
Kajian tersebut diasuh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Rd. Marpu Muhidin Ilyas, MA, dengan rujukan kitab Al-Hayat Ath-Thoyibah Ma’al Qur’an karya Maulana Syaikh Ala Musthofa Naimah Al-Azhary Asy-Syafi’i.
Kitab tersebut merupakan tafsir kontemporer berbasis Tafsir Jalalain untuk Juz 30. Pada kesempatan itu, KH. Marpu mulai menguraikan kajian Surat An-Naba, khususnya ayat pertama, dengan terlebih dahulu menjelaskan kedalaman makna basmalah.
KH. Marpu menjelaskan bahwa basmalah bukan sekadar kalimat pembuka yang biasa dibaca sebelum memulai sesuatu. Basmalah adalah bagian dari Al-Qur’an dan menjadi ayat yang paling banyak diulang dalam mushaf.
Menurutnya, pemahaman terhadap basmalah perlu dibangun secara lebih dalam. Terjemahan umum seperti “dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang” tidak salah, tetapi belum cukup untuk menggali kekayaan makna yang diwariskan para ulama tafsir.
Ia kemudian menjelaskan bahwa kata Ar-Rahman dan Ar-Rahim sama-sama berkaitan dengan rahmat Allah. Namun, keduanya memiliki dimensi makna yang berbeda. Rahmat, dalam penjelasan KH. Marpu, bukan hanya rasa kasihan di dalam hati, tetapi kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Rahmat itu kepedulian berupa tindakan nyata. Kalau hanya kasihan di dalam hati, itu belum rahmat. Rahmat itu ketika kepedulian berubah menjadi tindakan,” jelas KH. Marpu.
Dalam konteks basmalah pada Surat An-Naba, KH. Marpu menguraikan bahwa Ar-Rahman menunjukkan rahmat Allah kepada seluruh alam melalui pengutusan para nabi dan rasul. Para nabi diutus sebagai bentuk kasih sayang Allah yang nyata bagi kehidupan manusia.
Adapun Ar-Rahim menunjukkan rahmat khusus Allah kepada orang-orang beriman. Rahmat ini berupa cahaya keyakinan, kekuatan dalil, dan kemampuan untuk bangkit menyampaikan risalah kebenaran.
Dengan demikian, basmalah dalam pembukaan Surat An-Naba tidak hanya dibaca sebagai pembuka bacaan, tetapi sebagai pintu untuk memahami bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai rahmat besar bagi semesta dan petunjuk khusus bagi orang beriman.
KH. Marpu juga menekankan pentingnya tradisi ulama terdahulu dalam memaknai basmalah. Ia menyebut ungkapan seperti “ngawitan abdi ngaos” dalam tradisi ngalogat sebagai contoh kedalaman cara ulama Nusantara memahami basmalah, yaitu sebagai kesadaran untuk memulai segala sesuatu dengan nama Allah.
Kajian ini menjadi pengantar penting sebelum masuk pada pembahasan ayat pertama Surat An-Naba, “Amma yatasa’alun”. Melalui penjelasan tersebut, para guru Al-Muhajirin diajak memahami Al-Qur’an tidak hanya dari sisi terjemahan, tetapi juga dari kedalaman makna, rasa bahasa, dan pesan spiritual yang terkandung di dalamnya.
Melalui kajian rutin ini, Al-Muhajirin terus menguatkan tradisi keilmuan pesantren yang memadukan tafsir, adab, bahasa, dan pembinaan ruhani bagi para pendidik. (*)
