
AL-MUHAJIRIN – Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti Lapangan Al-Muchtar Al-Muhajirin Kampus Pusat pada Kamis malam, 18 Juni 2026 bertepatan dengan 2 Muharram 1448 H. Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus Pusat menggelar Malam Muwadaah dan Pembagian Raport Durusullail, sebuah momentum perpisahan sementara sebelum para santri menjalani masa liburan sekaligus penyerahan hasil pembelajaran selama satu semester.
Dalam kesempatan tersebut, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA, menyampaikan tausiyah yang sarat makna tentang hakikat menjadi santri dan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat kehidupan.
Mengawali tausiyahnya, Syaikhuna mengungkapkan bahwa kehidupan di pesantren merupakan proses pendidikan yang luar biasa. Menurutnya, tidak ada sosok yang lebih tangguh daripada santri karena kesehariannya dipenuhi dengan perjuangan menuntut ilmu.
“Tidak ada yang paling hebat dan paling kuat kecuali santri di pondok. Tidur sebentar, makan sedikit, tetapi siang dan malam dihabiskan untuk belajar.”
Beliau mengenang masa-masa mondok yang membentuk dirinya hingga kini. Baginya, pesantren mengajarkan semangat belajar sepanjang hayat.
“Tiada hari tanpa membaca, tiada hari tanpa mendengarkan, tiada hari tanpa mengajar, dan tiada hari tanpa menulis. Itulah sesungguhnya arti hidup.”
Berbahagia Bersama Al-Qur’an
Syaikhuna kemudian mengutip firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)
Menurut beliau, kebahagiaan sejati adalah ketika seseorang hidup dekat dengan Al-Qur’an.
Para ulama, kata Syaikhuna, menjelaskan bahwa setidaknya ada lima kewajiban seorang muslim terhadap Al-Qur’an, yaitu:
- Membacanya dengan baik (tilawah),
- Menghafalnya (hifzh),
- Memahaminya (fahm),
- Mengamalkannya (‘amal),
- Mendakwahkannya (da’wah).
Karena itu, kehidupan pesantren sesungguhnya adalah kehidupan yang dipenuhi keberkahan, sebab para santri setiap hari berinteraksi dengan Al-Qur’an, tafsir, hadis, tauhid, fikih, dan akhlak.
Jadilah Santri yang Membanggakan
Syaikhuna mengingatkan agar para santri menjaga identitas dirinya sebagai santri, baik dalam ibadah, akhlak, amaliah, cara berpakaian, maupun pergaulan.
“Orang tua harus bangga karena anaknya yang mondok semakin rajin ibadah, semakin baik akhlaknya, dan menjadi teladan di masyarakat.”
Beliau juga menekankan pentingnya sifat qana’ah dan syukur atas nikmat menjadi santri.
Beliau mengutip hikmah:
مَنْ قَنِعَ ذَلَّ مَنْ طَمِعَ
“Orang yang merasa cukup akan mulia, sedangkan orang yang serakah akan hina.”
Menurutnya, rasa syukur akan melahirkan kebahagiaan dan menjadikan seorang santri memperoleh hidayah serta rahmat Allah SWT.
Tiga Amal yang Tak Pernah Merugi
Syaikhuna kemudian membacakan firman Allah SWT:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah merugi.” (QS. Fathir: 29)
Beliau menjelaskan bahwa ada tiga amalan yang tidak akan pernah gagal dan tidak akan merugi, yakni:
- Membaca Al-Qur’an,
- Mendirikan salat,
- Berinfak di jalan Allah.
Syaikhuna juga mengutip nasihat hikmah dari Ibnu Athaillah As-Sakandari. Jika ingin hati dipenuhi cahaya, biasakan tiga amalan:
- Bangun malam walaupun hanya dua rakaat.
- Membaca Al-Qur’an setiap hari walau hanya satu ayat.
- Bersedekah setiap hari meskipun sedikit.
“Hatimu akan menjadi baik dan dipenuhi cahaya.”
Pesantren Adalah Amanah Umat
Dalam tausiyahnya, Syaikhuna mengungkapkan rasa syukur atas perkembangan Pondok Pesantren Al-Muhajirin yang semakin besar dan maju.
Beliau mengingatkan bahwa seluruh fasilitas pesantren merupakan karunia Allah SWT dan amanah umat yang harus dijaga bersama.
“Pesantren ini bukan milik pribadi. Ini milik umat. Tidak akan diwariskan dan tidak akan dijual karena ini adalah wakaf.”
Beliau juga mengingatkan firman Allah:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepada kalian.” (QS. Ibrahim: 7)
Berpikir Dinamis, Berakhlak Salaf, Beraqidah Ahlussunnah wal Jamaah
Menjelang akhir tausiyah, Syaikhuna kembali menegaskan prinsip pendidikan Al-Muhajirin:
Berpikir Dinamis, Berakhlak Salaf, dan Beraqidah Ahlussunnah wal Jamaah.
Menurut beliau, berpikir dinamis berarti mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.
Beliau mengutip pesan Sayyidina Ali RA:
لَا تُكْرِهُوا أَوْلَادَكُمْ عَلَى آدَابِكُمْ فَإِنَّهُمْ خُلِقُوا لِزَمَانٍ غَيْرِ زَمَانِكُمْ
“Janganlah kalian memaksakan adat kebiasaan kalian kepada anak-anak kalian, karena mereka diciptakan untuk zaman yang berbeda dengan zaman kalian.”
Adapun Ahlussunnah wal Jamaah, jelas beliau, adalah manhaj yang berpegang pada akidah para sahabat Nabi, fikih empat mazhab, serta akhlak para ulama salaf.
Membahagiakan Orang Tua
Di penghujung tausiyah, Syaikhuna mengingatkan para santri agar menjadi anak saleh yang mampu membahagiakan kedua orang tuanya.
“Senangkan ayah dan ibu di rumah dengan ibadahmu, akhlakmu, dan penampilanmu. Itulah hasil pendidikan Al-Muhajirin.”
Beliau kemudian bertanya:
“Siap tidak menjadi orang yang membahagiakan orang tua?”
Pertanyaan itu dijawab serempak oleh para santri dengan penuh semangat.
Syaikhuna menegaskan bahwa menjadi santri Al-Muhajirin tidak akan pernah sia-sia.
“Karena pesantren, kita bisa mengaji, memahami kitab, dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Yakinlah, pesantren akan membahagiakan kalian.”
Beliau menutup tausiyah dengan mengutip firman Allah SWT:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Barang siapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman, maka sungguh Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)
Syaikhuna juga menitipkan salam takzim kepada seluruh orang tua santri seraya mendoakan agar mereka diberi kesehatan, umur yang berkah, rezeki yang halal dan baik, serta keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.
Malam Muwadaah ini menjadi semakin istimewa karena sekaligus menjadi momen perpisahan sementara dengan para santri. Usai acara, Syaikhuna dijadwalkan bertolak ke Surabaya untuk mengikuti Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar PBNU selama tiga hari.
Acara berlangsung khidmat dan penuh haru, menjadi pengingat bahwa perjalanan sebagai santri bukan sekadar menuntut ilmu, melainkan proses menempa diri agar senantiasa dekat dengan Al-Qur’an, berakhlak mulia, membahagiakan orang tua, dan kelak hadir sebagai pribadi yang memberi manfaat bagi agama, bangsa, dan umat. (*)
