
AL-MUHAJIRIN– Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Ibunda Dra. Hj. Euis Marfuah, M.A., mengajak seluruh orang tua santri untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup sekaligus menyelaraskan pola asuh antara rumah dan pesantren. Hal itu disampaikan dalam tausiah pada acara Silaturahmi, Pengajian, dan Pembagian Rapor Penilaian Sumatif Akhir Tahun SMP-MTs serta SMA-MA Al-Muhajirin Kampus Pusat Tahun Pelajaran 2025–2026.
Di hadapan para wali santri, guru, dan siswa, Ibunda Hj. Euis mengingatkan bahwa keberhasilan membentuk generasi saleh dan salehah sangat ditentukan oleh keselarasan pola pendidikan di rumah dan di lingkungan pesantren.
“Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Orang tua, lembaga pendidikan, dan masyarakat harus saling mendukung agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, menjadi santri yang baik, dan menjadi hamba Allah yang baik,” ujarnya.
Dalam tausiahnya, Ibunda Hj. Euis mengajak para hadirin untuk memperbanyak tafakur atau perenungan terhadap kebesaran Allah. Beliau menjelaskan bahwa para ulama membagi tafakur menjadi lima bagian, yakni tafakur terhadap ayat-ayat Allah, nikmat Allah, janji-janji Allah, ancaman Allah, serta perbandingan antara ibadah manusia dan limpahan nikmat yang diberikan Allah.
Beliau menegaskan bahwa ayat-ayat Allah tidak hanya berupa ayat-ayat yang tertulis di dalam Al-Qur’an (ayat qauliyah), tetapi juga ayat-ayat yang tersebar di alam semesta (ayat kauniyah). Dengan mentafakuri keduanya, seseorang akan semakin yakin terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah.
“Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga dipelajari, diteliti, dipahami, diamalkan, dan disebarkan. Itulah makna tafakur yang sesungguhnya,” tuturnya.
Ibunda Hj. Euis juga mengingatkan pentingnya mensyukuri berbagai nikmat yang diberikan Allah, mulai dari nikmat yang bersifat duniawi hingga nikmat terbesar berupa iman, Islam, dan ihsan yang akan mengantarkan manusia menuju kebahagiaan akhirat.
“Kalau kita senantiasa mentafakuri nikmat Allah, insyaallah kita akan menjadi hamba yang pandai bersyukur,” katanya.
Karena kegiatan berlangsung pada bulan Muharam, yang merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam, Ibunda Hj. Euis turut mengajak para wali santri dan siswa untuk memanfaatkan momentum tersebut dengan memperbanyak ibadah, khususnya puasa Asyura.
Beliau menjelaskan bahwa puasa pada 10 Muharam, yang dianjurkan disertai puasa sehari sebelum atau sesudahnya, memiliki keutamaan yang sangat besar sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadis.
Selain itu, beliau mengingatkan agar pergantian tahun baru Islam dijadikan momentum muhasabah diri.
“Tahun ini harus lebih baik daripada tahun yang lalu. Kita memohon kepada Allah agar diampuni dosa-dosa yang lalu dan dijauhkan dari godaan setan serta nafsu yang buruk,” pesannya.
Pada akhir tausiah, Ibunda Hj. Euis menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh orang tua yang telah mempercayakan putra-putrinya untuk menimba ilmu di Pondok Pesantren Al-Muhajirin. Beliau juga memohon maaf apabila masih terdapat berbagai kekurangan dalam pelayanan pendidikan di pesantren.
“Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan kepada kita semua dalam mendidik anak-anak dan menjadikan putra-putri kita sebagai anak-anak yang saleh dan salehah. Sebab, deposito yang abadi adalah sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang senantiasa mendoakan orang tuanya,” pungkasnya. (*)
