
AL-MUHAJIRIN– Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, M.A., menyampaikan bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat diraih melalui kedekatan dengan Al-Qur’an. Pesan tersebut disampaikan dalam acara Parade Tasmi Angkatan VII–Wisuda Tahfizh Rumah Tahfizh Al-Muhajirin Purwakarta Tahun 2026 yang berlangsung di Aula Masjid Al Madinah, Pondok Pesantren Al-Muhajirin II Ciseureuh, Purwakarta, Jumat (26/6/2026).
Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan sambutan dari perwakilan orang tua, Kepala Rumah Tahfizh Al-Muhajirin, Direktur LTTQ Al-Muhajirin, dan Ketua Yayasan Al-Muhajirin. Acara kemudian diisi dengan Parade Tasmi, penampilan serta uji publik peserta terbaik, pemberian apresiasi, tausiyah Syaikhuna Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, persembahan kasih santri kepada orang tua, taujih dan doa, prosesi wisuda, serta ditutup dengan foto bersama santri dan asatidz.
Dalam tausiyahnya, Syaikhuna mengajak seluruh hadirin mensyukuri nikmat terbesar berupa petunjuk Allah melalui Al-Qur’an.
“Betapa bahagianya hidup bersama Al-Qur’an. Kita yakin bahwa tidak ada kebahagiaan yang hakiki tanpa Al-Qur’an. Betapa bahagianya seseorang yang Allah beri petunjuk melalui Al-Qur’an, dan betapa mulianya orang yang di dalam hatinya terdapat Al-Qur’an,” tuturnya.
Beliau mengingatkan sabda Rasulullah SAW bahwa hati yang kosong dari Al-Qur’an bagaikan rumah yang kosong dan rusak. Karena itu, Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca atau dibawa dalam bentuk mushaf, tetapi harus hidup dalam hati, pikiran, lisan, pendengaran, penglihatan, dan menjadi pedoman seluruh aspek kehidupan.
Syaikhuna kemudian mengisahkan perjalanan awal berdirinya Pondok Pesantren Al-Muhajirin. Menurutnya, sejak awal cita-cita utama bukan membangun gedung yang megah, melainkan membangun kehidupan yang dipenuhi Al-Qur’an.
Pada tahun 1993, Al-Muhajirin memulai dengan membuka TPA dan TK Al-Qur’an. Antusiasme masyarakat sangat besar dengan hampir 500 anak mendaftar pada angkatan pertama. Demi menjaga kualitas pembelajaran, satu guru membimbing sekitar enam santri sehingga saat itu direkrut hampir seratus guru. Pada tahun yang sama juga didirikan panti asuhan yang membiasakan anak-anak hidup bersama Al-Qur’an, membaca kitab, beribadah, dan dibina dengan penuh kasih sayang.
“Alhamdulillah, dari awal yang kecil itu Allah terus memberikan pertolongan,” ungkapnya.
Kini, lanjut beliau, Al-Muhajirin berkembang menjadi lembaga pendidikan yang membina lebih dari enam ribu santri dengan sekitar seribu guru dan karyawan. Semua perkembangan tersebut diyakini sebagai keberkahan Al-Qur’an serta doa-doa anak yatim.
Beliau menegaskan keyakinannya terhadap janji Allah dalam Al-Qur’an bahwa Allah sendiri yang menjaga Al-Qur’an. Karena itu, siapa yang menjaga Al-Qur’an, Allah akan menjaga kehidupannya. Menurutnya, keberadaan para penghafal Al-Qur’an merupakan nikmat besar yang menjadi sebab turunnya keberkahan bagi negeri.
“Kalau Indonesia masih diberikan berbagai nikmat sampai hari ini, kita yakin salah satu sebabnya adalah masih banyak orang yang membaca Al-Qur’an,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Syaikhuna juga menjelaskan bahwa pendidikan bukan hanya bertujuan mencerdaskan akal, tetapi membentuk akhlak mulia. Karena itulah Al-Muhajirin terus mengembangkan jenjang pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi agar lahir generasi yang berilmu sekaligus berkarakter Qur’ani.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan ditentukan oleh tiga unsur yang saling menguatkan, yakni kesungguhan anak dalam belajar, kesungguhan guru dalam membimbing, serta dukungan dan doa dari orang tua. Tanpa sinergi ketiganya, tujuan pendidikan tidak akan tercapai secara optimal.
Syaikhuna juga mengajak seluruh orang tua untuk tidak pernah berhenti memanjatkan doa bagi putra-putrinya. Beliau mengingatkan beberapa doa Al-Qur’an yang dianjurkan untuk diamalkan setiap hari, di antaranya doa Nabi Ibrahim, “Rabbi hab li minas shalihin”, doa memohon keluarga yang menjadi penyejuk hati, serta doa Nabi Sulaiman agar diberi kemampuan bersyukur, beramal saleh, dan dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba yang saleh.
“Anak-anak memerlukan doa ayah dan ibunya. Jangan pernah berhenti mendoakan mereka agar menjadi anak yang saleh, berbakti kepada orang tua, bermanfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat,” pesannya.
Menutup tausiyahnya, Syaikhuna mengingatkan bahwa pendidikan merupakan investasi akhirat. Rumah yang dipenuhi ilmu dan lantunan Al-Qur’an akan menjadi rumah yang hidup, sedangkan rumah yang sepi dari bacaan Al-Qur’an akan kehilangan keberkahannya. Beliau juga mengajak umat Islam menjadikan harta yang dimiliki sebagai wakaf, sedekah, dan amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
“Mudah-mudahan semua amal yang kita lakukan diterima oleh Allah SWT, menjadi pahala yang terus mengalir, membawa keberkahan di dunia dan keselamatan di akhirat,” pungkasnya. (*)
