Tausiah Syaikhuna KH Abun Bunyamin: Iman Bersayap Syukur dan Sabar, Kunci Menjemput Lailatul Qadar

Bagikan artikel ini:

ALMUHAJIRIN— Suasana hangat dan penuh kekhidmatan menyelimuti kegiatan buka puasa bersama keluarga besar Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kampus 3 yang digelar di kawasan Castle, Cikao, Kamis, 12 Maret 2026. Dalam momentum kebersamaan itu, tausiah yang disampaikan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Syaikhuna Prof. Dr. KH. Abun Bunyamin, MA menjadi penyejuk sekaligus penguat ruhiyah bagi seluruh jamaah yang hadir.

Dalam penyampaiannya, beliau mengutip pemikiran ulama besar Imam Al-Ghazali tentang hakikat iman yang diibaratkan memiliki dua sayap. Sayap kanan adalah syukur, yang harus hadir ketika manusia menerima nikmat. Sementara sayap kiri adalah sabar, yang menjadi pegangan saat menghadapi ujian.

Baca Juga:  Penghargaan Dosen dan Wisudawan Lulusan Terbaik Meriahkan Wisuda Sarjana V STAI Al-Muhajirin 2025

“Iman tidak akan sempurna jika hanya memiliki satu sayap. Syukur dan sabar harus berjalan beriringan dalam kehidupan,” tutur beliau, menegaskan pentingnya keseimbangan spiritual dalam menyikapi berbagai keadaan hidup.

Lebih jauh, beliau mengingatkan bahwa setiap detik kehidupan manusia sejatinya dipenuhi oleh nikmat Allah SWT. Bahkan, hal sederhana seperti berbuka puasa menjadi pengingat bahwa kenikmatan sejati terasa setelah adanya penahanan diri. Dalam konteks ini, beliau juga menegaskan bahwa ajaran puasa yang dijalankan umat Islam bersumber langsung dari tuntunan Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga:  Sebulan Penuh Shalawat Nabi Muhammad SAW Berkumandang di Al-Muhajirin Kampus Pusat Purwakarta

Menguatkan motivasi ibadah di bulan suci, beliau mengutip hadits riwayat Imam Muslim tentang keutamaan puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal. Amalan tersebut, menurut hadits, bernilai seperti berpuasa selama setahun penuh.

Tak hanya itu, beliau juga mengajak seluruh jamaah untuk bersungguh-sungguh dalam mencari malam kemuliaan, Lailatul Qadar, yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Momentum tersebut, menurutnya, harus diisi dengan amalan-amalan terbaik.

Dalam tausiah tersebut, beliau merinci sepuluh amalan yang dapat dilakukan untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar. Mulai dari i’tikaf di masjid, qiyamul lail atau salat malam, tadarus Al-Qur’an, hingga memperbanyak shalawat, doa, dan istighfar. Selain itu, dzikir, sedekah, menjaga silaturahmi, serta kegiatan ta’lim wa ta’allum atau belajar dan mengajar juga menjadi bagian penting dalam menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan.

Baca Juga:  Syaikhuna KH Abun Bunyamin Tetap Jadi Inspirasi di Usia 70 Tahun: Semangat, Perhatian, dan Kasih Sayang yang Tak Berubah

Tausiah ini menjadi pengingat mendalam bahwa Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ruang pembentukan karakter iman yang utuh—yang mampu bersyukur dalam kelapangan dan bersabar dalam kesempitan. (*)

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *