Pengajian Rutin Al-Muhajirin Pusat: Memaknai Hijrah sebagai Transformasi dan Membaca Alam Melalui Surah An-Naba’

Bagikan artikel ini:
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Rd. Marpu Muhiddin Ilyas, MA

ALMUHAJIRIN— Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat kembali menggelar Pengajian Rutin Hari Rabu bersama para guru di Kampus Pusat, Jalan Veteran, Purwakarta, Rabu, 17 Juni 2026.

Kajian yang dipimpin langsung Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muhajirin Pusat, KH. Marpu Muhiddin Ilyas, MA, tersebut membahas Kitab Al-Hayat Ath-Thoyibah Ma’al Qur’an karya Maulana Syaikh Ala Musthofa Naimah Al-Azhary Asy-Syafi’i, sebuah tafsir kontemporer berbasis Tafsir Jalalain untuk Juz 30.

Pada pertemuan kali ini, KH. Marpu terlebih dahulu mengajak jamaah merenungi momentum Tahun Baru Islam dan makna hijrah. Menurutnya, hijrah bukan sekadar perpindahan tempat dari Makkah ke Madinah, tetapi gerbang besar transformasi umat Islam.

Ia menjelaskan, penetapan kalender Islam bermula pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA, ketika wilayah Islam semakin luas dan umat membutuhkan sistem penanggalan yang menjadi identitas sendiri. Para sahabat kemudian bermusyawarah untuk menentukan titik awal kalender umat Islam.

Beberapa peristiwa besar sempat menjadi usulan, seperti kelahiran Nabi Muhammad SAW, turunnya wahyu pertama, hingga Isra Mikraj. Namun, para sahabat akhirnya memilih hijrah sebagai titik awal kalender Islam.

KH. Marpu menjelaskan, pilihan itu bukan tanpa alasan. Hijrah merupakan peristiwa yang paling kuat menggambarkan perjuangan, proses, idealisme, harapan, dan cita-cita besar umat Islam. Dari hijrahlah Islam tidak berhenti di Makkah, tetapi berkembang ke Madinah, lalu menyebar ke berbagai penjuru dunia hingga sampai ke Nusantara.

“Hijrah adalah gerbang transformasi Islam. Bukan hanya dari Makkah ke Madinah, tetapi dari Makkah dan Madinah menuju dunia,” jelasnya.

Ia juga mengulas alasan Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah. Padahal, secara pribadi Rasulullah SAW baru berangkat hijrah pada akhir bulan Safar dan tiba di Madinah pada Rabiul Awal.

Menurut KH. Marpu, Muharram dipilih karena pada bulan itulah izin hijrah mulai turun dan gelombang pertama para sahabat mulai bergerak secara berkelompok menuju Madinah. Hijrah ketika itu bukan perjalanan biasa, melainkan kewajiban berat yang dilakukan dalam tekanan, ancaman, dan pengorbanan besar.

Para sahabat meninggalkan rumah, tanah, harta, dan kehidupan lama mereka di Makkah. Mereka datang ke Madinah dalam keadaan sangat terbatas. Karena itulah, Rasulullah SAW kemudian mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar.

Selain itu, Muharram juga memiliki makna spiritual yang kuat karena datang setelah Zulhijah, bulan pelaksanaan ibadah haji. Dengan begitu, Tahun Baru Hijriah tersambung dengan momentum ibadah besar umat Islam.

Baca Juga:  Ribuan Santri Al-Muhajirin Pusat Lepas Keberangkatan Syaikhuna dan Ummi Ifa Menuju Tanah Suci

Bagi keluarga besar Al-Muhajirin, kata KH. Marpu, makna hijrah harus menjadi kekuatan batin. Nama “Muhajirin” mengandung pesan agar setiap warga pesantren memiliki semangat perubahan, kemajuan, dan transformasi. Hijrah berarti tidak jumud, tidak apatis, dan tidak berhenti bergerak menuju kebaikan.

KH. Marpu kemudian mengutip makna hadis Nabi SAW: “La hijrata ba’dal fathi, walakin jihadun wa niyyatun.” Setelah Fathu Makkah, kewajiban hijrah secara fisik telah berakhir. Namun, yang tetap abadi adalah jihad dan niat.

Jihad dalam pengertian luas, jelasnya, adalah perjuangan sungguh-sungguh untuk menegakkan agama Allah. Mengajar, mengaji, mendidik, membina keluarga, membangun lembaga, serta memperjuangkan kebaikan umat termasuk bagian dari semangat jihad selama diniatkan untuk memuliakan agama Allah.

Sementara niat adalah kekuatan batin yang menggerakkan seseorang untuk berubah. Niat bukan hanya pengertian fikih yang sempit, tetapi tekad, cita-cita, visi, dan idealisme yang hidup dalam hati seorang Muslim.

Karena itu, memasuki tahun baru Islam, KH. Marpu mengajak para guru untuk tidak membiarkan pergantian tahun berlalu kosong. Setiap orang perlu memiliki niat baik, rencana baik, dan impian besar untuk pribadi, keluarga, lembaga, umat, dan agama.

“Jangan sampai kosong. Harus punya niat baik, planning baik, impian besar yang baik,” pesannya.

Dalam bagian pembuka tersebut, KH. Marpu juga menekankan pentingnya fa’lul hasan, yakni membiasakan pikiran dan ucapan yang baik. Rasulullah SAW, kata dia, sangat menyukai optimisme dan kata-kata positif. Bahkan dalam perjalanan hijrah yang penuh tekanan, Nabi SAW tetap membangun harapan dan tidak terjebak dalam pesimisme.

KH. Marpu mengingatkan, seorang Muslim hendaknya menjauh dari tasyaum atau sikap selalu pesimis. Dalam kondisi sulit sekalipun, seorang Muslim harus menjaga ucapan, pikiran, dan harapan baik kepada Allah SWT.

Setelah pembuka tentang hijrah, kajian dilanjutkan dengan tafsir Surah An-Naba’ ayat 12 hingga 16. Ayat-ayat ini berbicara tentang tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, mulai dari tujuh langit yang kokoh, matahari yang menyala terang, hujan yang turun dari awan, hingga tumbuhnya biji-bijian, tanaman, dan kebun-kebun yang rindang.

Pada ayat “Wa banaina fauqakum sab’an syidada”, KH. Marpu menjelaskan bahwa Allah SWT membangun di atas manusia tujuh langit yang sangat kokoh. Kata “syidada” menunjukkan kekuatan, kekokohan, dan keteguhan ciptaan Allah.

Baca Juga:  Badan Wakaf Al-Muhajirin Luncurkan Wakaf Produktif Ayam Petelur untuk Ketahanan Pangan dan Kemandirian Umat

Ia menegaskan, keyakinan seorang mukmin terhadap tujuh langit bersumber dari Al-Qur’an. Sains dapat membantu memberi isyarat dan konfirmasi, tetapi keimanan seorang Muslim tidak bergantung pada berubah-ubahnya teori ilmiah. Al-Qur’an tetap menjadi sumber kebenaran utama.

KH. Marpu juga meluruskan pemahaman mengenai penggunaan kata “kami” dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Menurutnya, ketika Allah menggunakan bentuk “na” atau “kami”, hal itu lebih tepat dipahami sebagai ungkapan keagungan Allah, bukan berarti Allah membutuhkan atau melibatkan pihak lain dalam penciptaan.

“Allah tidak membutuhkan bantuan siapa pun. Itu menunjukkan keagungan Allah,” jelasnya.

Kemudian pada ayat “Wa ja’alna sirajan wahhaja”, KH. Marpu menerangkan bahwa “siraj” bermakna pelita, sedangkan “wahhaj” berarti sangat terang, menyala, dan memancarkan panas. Yang dimaksud dalam ayat ini adalah matahari.

Menurutnya, Al-Qur’an menggambarkan matahari dengan ungkapan yang sangat akurat. Matahari bukan hanya memberi cahaya, tetapi juga memancarkan panas dan energi yang memberi manfaat besar bagi kehidupan.

Selanjutnya, pada ayat “Wa anzalna minal mu’shirati ma’an tsajjaja”, KH. Marpu menjelaskan bahwa Allah menurunkan air hujan yang deras dari awan-awan yang telah penuh mengandung air. Kata “mu’shirat” menggambarkan awan yang sudah berat dan siap mencurahkan hujan.

Hujan tersebut tidak diturunkan untuk merusak, melainkan untuk menghidupkan bumi. Melalui air hujan, Allah menumbuhkan “habban wa nabata”, yakni biji-bijian dan berbagai tanaman, serta “jannatin alfafa”, kebun-kebun yang lebat, rindang, dan saling bertumpuk.

KH. Marpu menegaskan, rangkaian ayat ini bukan sekadar penjelasan tentang fenomena alam. Semua itu merupakan argumen ketuhanan untuk menunjukkan betapa mudahnya bagi Allah membangkitkan manusia pada hari kiamat.

Jika Allah mampu menciptakan langit yang kokoh, matahari yang dahsyat, menurunkan hujan, dan menghidupkan bumi dengan tumbuh-tumbuhan, maka membangkitkan manusia yang telah mati adalah perkara yang sangat mudah bagi-Nya.

Ayat-ayat tersebut kemudian mengantarkan pembahasan kepada “Inna yaumal fashli kana miqata”, bahwa hari keputusan atau hari kiamat adalah waktu yang telah ditentukan. Hari itu pasti terjadi, sebagaimana alam semesta ini berjalan dalam ketentuan Allah.

Salah satu bagian penting dari kajian ini adalah ajakan KH. Marpu kepada para guru untuk membaca alam sebagai tanda kebesaran Allah. Ia menjelaskan, fenomena-fenomena yang disebutkan dalam Surah An-Naba’ merupakan ayat-ayat kauniyah yang memperlihatkan tajalli asma wa sifat, yakni penampakan makna nama-nama dan sifat Allah dalam ciptaan-Nya.

Baca Juga:  Pengajian Ramadhan Al-Muhajirin Pusat – Kitab Riyadhus Shalihin (Bab Pertama: Ikhlas & Niat – Lanjutan Kajian Hadis Keempat)

Bumi yang dihamparkan menunjukkan makna Al-Basit, Allah Yang Maha Menghamparkan, dan Al-Khafidh, Yang merendahkan sehingga bumi dapat dihuni. Gunung yang dijadikan pasak menunjukkan sifat Al-Qawi dan Al-Matin, Allah Yang Maha Kuat dan Maha Kokoh.

Penciptaan manusia secara berpasangan menunjukkan sifat Al-Khaliq, Al-Badi’, dan Al-Musawwir. Tidur yang membuat manusia tidak kuasa menolak kantuk menunjukkan sifat Al-Qahhar, Yang Maha Menguasai, dan Al-Mumit, Yang mematikan.

Malam yang dijadikan pakaian menunjukkan sifat As-Sattar, Yang Maha Menutupi, serta Al-Latif, Yang Maha Lembut. Siang yang dijadikan waktu mencari penghidupan menunjukkan sifat Ar-Razzaq, Yang Maha Memberi Rezeki, dan Az-Zahir, Yang nyata tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Tujuh langit yang kokoh menunjukkan sifat Ar-Rafi’, Yang Maha Meninggikan. Matahari yang menyala terang menunjukkan makna An-Nafi’, Yang Maha Memberi Manfaat, dan Al-Wasi’, Yang Maha Luas karunia-Nya. Sedangkan hujan dan tumbuhnya tanaman menunjukkan sifat Al-Hayyu, Allah Yang Maha Hidup dan menghidupkan.

Menurut KH. Marpu, inilah bentuk integrasi ilmu yang perlu dihidupkan di lingkungan pendidikan. Guru IPA, Biologi, Fisika, Astronomi, Geologi, dan bidang ilmu lainnya perlu membantu peserta didik melihat bahwa ilmu pengetahuan tidak menjauhkan manusia dari Allah, tetapi justru menjadi jalan untuk semakin mengenal keagungan-Nya.

Belajar sains, kata dia, seharusnya tidak berhenti pada penjelasan teknis tentang langit, bumi, gunung, hujan, matahari, tumbuhan, dan kehidupan. Semua itu harus mengantar peserta didik kepada kesadaran bahwa di balik setiap fenomena alam terdapat tanda kebesaran Allah SWT.

Dengan demikian, kajian tafsir kontemporer ini tidak hanya memperkaya pemahaman para guru terhadap ayat-ayat Juz ‘Amma, tetapi juga meneguhkan cara pandang pendidikan Islam yang utuh. Al-Qur’an dibaca sebagai petunjuk hidup, sementara alam semesta dibaca sebagai hamparan tanda-tanda kebesaran Allah.

Melalui kajian ini, KH. Marpu berharap para guru Al-Muhajirin mampu menghadirkan pembelajaran yang mencerahkan: ilmu yang kuat secara pengetahuan, kokoh secara iman, dan hidup dalam kesadaran spiritual.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Bagikan artikel ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *